Postingan

Hujan dan Teduh bab 4 by: Wulan Dewatra

Keajaiban Sebuah Cutter


Laboratorium Biologi tampak ramai dengan anak-anak yang sedang melakukan praktik uji kandungan pada makanan. Percobaan sederhana yang biasanya dilakukan oleh anak kelas satu kini dilakukan oleh anak kelas tiga untuk persiapan ujian praktik di akhir tahun. Tujuannya agar para siswa tidak lupasiapa tahu materi tersebut keluar dalam ujian.
Kertas folio Bintang yang terkena cipratan berbagai makanan berbau amis sudah lengkap terisi, siap untuk di kumpulkan. Tabung-tabung uji dan peralatan lainnya sudah menunggu untuk dicuci. Anak-anak lain pun sudah selesai dengan pekerjaan masing-masing, beberapa masih mengoreksi kesimpulan mereka. Daniel yang bekerja di sebelah Bintang bahkan sudah mengumpulkan kertasnya dan baru kembali ke mejanya dengan tabung-tabung uji yang sudah dicuci. Diletakkannya tabung-tabung itu dengan hati-hati di rak.
Tak ingin berlama-lama, Bintang mengangkat gelas uji yang dipakainya untuk menguji amilum dari atas kompor spiritus kecil b…

Hujan dan Teduh bab 3 by: Wulan Dewatra

Bukan Sesuatu yang Wajar


Guntingan kertas, pensil warna dan beberapa alat tulis lainnya terhampar di atas karpet tempat Kaila berbaring menelungkup. Ia asyik menghiasi tugas portfolio Bahasa Inggris. Tak jauh darinya, Bintang duduk menyandar ke tempat tidur dengan laptop di pangkuannya. Alih-alih menghiasi portfolio-nya dengan cara manual seperti Kaila, ia menghiasinya dengan gambar-gambar yang sudah ada. Ia sangat bodoh dalam menggambar.
"Argh, kok nggak selesai-selesai, sih," keluh Kaila yang kini memijat-mijat tangannya yang pegal. Bintang mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ya iyalah, ini kan tugas selama satu semester, Kai. Lagian kamu kerajinan amat ngehias pake ngegambar," ujarnya kepada Kaila yang sepertinya sudah bosan mengerjakan tugasnya. Kaila hanya tidur-tiduran dalam posisi menyamping sambil memainkan pensil warna yang bertebaran di sisinya.
Bintang ikut-ikutan berhenti mengerjakan tugasnya dan menghampiri Kaila.
Bintang memperhatikan lemba…

Hujan dan Teduh bab 2 by: Wulan Dewatra

Es yang Meleleh

Kantin kampus setelah jam makan siang terlihat lengang dan sepi. Beberapa menu sudah habis, sisanya tidak begitu menggairahkan lagi. Dari banyaknya meja yang berjejer, hanya beberapa meja yang ditempati, membuat para karyawan yang bekerja di sana bisa bersantai sejenak sebelum mulai berberes untuk pulang.
Di salah satu meja dekat pintu, Bintang sedang menghamparkan koran pagi yang belum sempat dibacanya. Kali ini, tidak seperti biasanya, Bintang meloncati berita dan langsung membaca kolom ikan. Dengan cekatan, matanya tertuju ke kolom lowongan pekerjaan.
"Nyari lowongan, ya?" Mei yang baru datang dengan sepiring nasi dan gado-gado duduk di hadapan Bintang.
"Ya." Sejenak Bintang melirik Mei sebelum kembali ke korannya. "Gado-gado tuh nggak cocok buat diet," lanjutnya tanpa memandang Mei. Ia heran, Mei yang sudah memiliki badan proposional masih ingin menurunkan lagi berat badannya.
"Gue nggak jadi diet. Gue berencana jadi v…

Hujan dan Teduh bab 1 by: Wulan Dewatra

She is Kaila
Sebuah bus kota sarat penumpang berhenti di halte, di depan sebuah SMA. Halte sesak oleh pelajar berseragam putih abu-abu yang sedang menunggu bus, plus yang sedang nongkrong-nongkrong. Beberapa saat kemudian, bus pergi meninggalkan halte, meninggalkan asap hitam pekat. Setelah asap menipis, yang tersisa di sana hanya segerombolan murid perempuan yang sedang berceloteh seperti burung parkit; seorang murid laki-laki berkacamata tebal, seorang murid perempuan berponi pagar dan seorang murid perempuan dengan rambut panjang terurai. Si perempuan berambut panjang memperhatikan murid berponi itu yang duduk jauh di sebelah kanan, dengan penuh minat dari ujung kepala sampai kaki. Ada yang menarik, entah apa. Menyadari sedang diperhatikan, si perempuan berponi menatap perempuan berambut panjang yang cepat-cepat memalingkan mukanya.
Si perempuan berambut panjang memandang jam tangannya, berharap orang yang sedang ditunggunya segera datang dan membawanya pergi dari kea…

Cerpen Lelaki Tua dan Makam Sederhana

Gambar
 by: Santhy Agatha
______________________________________________________
Lelaki itu renta, tubuhnya sudah rapuh dimakan usia, keriput di kulitnya begitu nyata dan kasar, mencerminkan perjuangan hidupnya yang penuh kesakitan. Tubuhnya sudah tidak tegak lagi, sedikit bungkuk seolah tulangnya tidak mampu lagi menopang dagingnya. Langkahnya pelan dan terseret-seret, penyakit stroke yang menyerangnya lima tahun lalu telah mengubah cara berjalannya.
Tetapi lelaki itu tetap tangguh, dia selalu datang di makam itu setiap sore. Menabur bunga di makam sederhana itu, lalu duduk lama disana sambil termenung, tidak pernah ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran lelaki tua itu. Penjaga makam sudah mengenalnya, pun anak-anak kecil dan wanita-wanita lusuh yang selalu berkeliaran di areal makam, membersihkan makam jika ada peziarah sambil mengharapkan sekeping dua keping uang untuk sekedar menyambung hidup.
Dan Lelaki tua itu seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan areal pemakaman…